Indahnya hidup seorang Muslim yang menyadari hakikat dirinya sebagai Hamba Allah, sebab segala hal yang ia lakukan pasti memiliki satu tujuan tertinggi, yakni ridha Allah semata. Bila dalam menggunakan suatu barang kita dapati manual book atau petunjuk penggunaan, maka seorang Muslim memiliki al-Quran dan As Sunnah sebagai pedoman hidupnya.
Maka tatkala pengaruh barat akan faham sekularisme ditawarkan kepada seorang muslim, pasti ia akan menolak mentah-mentah faham tersebut. Bisa kita lihat arti dari firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 208, "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." Allah memerintahkan orang beriman, untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, tanpa menafikan sebagiannya, atau hanya memakai sesuai kebutuhannya saja.
Oleh karena itu, tidak heran bila seorang muslim memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan orang kafir, karena itu adalah sebuah kepastian. Dua makhluk yang satu beriman dan satu lagi kafir, pasti memiliki pandangan hidup (worldview) yang berbeda. Bila dalam surah al-Quraisy orang kafir menawarkan Rasulullah untuk bertukar sesembahan, itu karena seorang yang kafir tidak memahami akan konsep Tuhan, beda halnya dengan seorang Muslim. Ia faham betul terhadap konsep ketuhanan, bahwa sedetik pun tidak ada sesembahan selain Allah subhana wa ta’ala, karena dari awal sudah bersaksi laa ila ha ilallah, tiada sesembahan selain Allah.
Secara umum, Prof. Alparslan mengartikan worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, dan dalam pengertian itu maka aktifitas manusia dapat direduksi menjadi pandangan hidup. Namun menurut al-Mauwdudi, yang dimaksud Islami Nazariyat (worldview) adalah pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia didunia.
Jadi secara sederhana, worldview adalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Worldview of Islam, hanya muslim yang mampu memiliki worldview seperti ini, seorang Muslim juga tidak bisa belajar cara berfikir atau pandangan seorang kafir, karena jelas konsep Tuhan dalam Islam adalah Tauhidullah. Maka wajar saja bila dalam debat tidak akan pernah bertemu dalam satu titik, sebab cara pandangnya saja sudah berbeda, konsep Tuhan yang di fahami pun jelas berbeda.
Maka itulah keistimewaan seorang Muslim, memiliki pandangan hidup Islami. The Worldview of Islam. Melihat segala sesuatunya tidak dengan pandangan kosong, tapi dengan berpandangan sebagai orang Islam. Misal, bila seorang muslim dihadapkan pada masakan yang terlihat lezat dan nikmat, dalam keadaan lapar sekalipun, saat ia tau masakan itu berasal dari daging babi, pasti seorang muslim akan menolak untuk makan, bahkan akan mual terlebih dahulu, karena dalam otaknya sudah terprogram bahwasanya daging babi itu haram.
Seorang muslim yang memiliki Islamic Worldview tidak akan mempraktikkan metode ‘hermeneutika’ terhadap kitab suci al-Quran. Sebab, ia sangat yakin akan kebenaran wahyu Tuhan, yang disampaikan melalui Rasul-Nya, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam.
Beda halnya dengan seorang yang kafir, atau tidak percaya terhadap Tuhan. Mereka dengan mudah menafsirkan Tuhan, bahkan tidak berhenti sampai menafsirkan, mereka berani menantang Tuhan dengan kata-kata yang tak pantas. Mereka lupa akan hakikat diri nya, akal mereka tak sampai terhadap proses penciptaan manusia dan alam semesta ini, sehingga tak bisa berfikir mengenai kuasa Tuhan.
Sesungguhnya the worldview of islam sangat penting untuk kehidupan seorang muslim, sebab sudah seharusnya kita melihat segala sesuatunya berdasarkan kacamata islam. Karena sesuatu yang baik belum tentu benar menurut Islam, namun kebenaran dalam Islam tentu baik untuk kita semua.
والله أعلمُ
